Gunung semeru memang penuh misteri, di ketinggian 2400 mdpl terbentang ekosistem perairan yang unik, ya itulah Ranu Kumbolo. Pernah mendengar kisah terbentuknya danau/ telaga ini dari hikayat cerita rakyat nusantara. Dalam cerita ada seorang anak yang bersisik ikan, untuk menjadikan dirinya menjadi manusia biasa, ia harus melakukan perjalanan suci ke gunung semeru untuk mengambil pusaka (saya lupa namanya..hehe). Dan akhirnya dia mendapatkan pusaka tersebut dan akan pulang ke Desa halaman, namun ditengah perjalanan pulangnya, Gunung Semeru mulai mengeluarkan amarahnya, dan keluarlah awan panas. Dan untuk meredam kemarahan Gunung Semeru, anak tersebut ingin mengembalikan pusaka tersebut. Tapi pusaka itu terjatuh di area lekukan bukit menuju Semeru, pusaka itu mengeluarkan air dan mulai mengenangi kawasan itu, dan disini lah dikenal menjadi Ranu kumbolo. Dan anak itu, menjelma jadi ikan (kisahnya kok mirip rawa pening,, dalam batinku).
Dan ketika saya ingin mencari sesuatu yang menurut saya menarik, yakni ikan jelmaan anak itu. Menurut pendapatku sih pasti jenis ikan cyprinidae yang dapat hidup di kawasan air tawar. Namun adakah ikan yang dapat hidup di suhu ekstream ini.
Nah, ini dia yang kami dapatkan di Ranu Kumbolo,, Xiphophorus helleri (Heckel 1848). Ikan ini termasuk kedalam Famili Poeciliidae, dengan bentuk yang khas pada ekor bawah (jantan). Ikan ini bukan asli Indonesia, ikan ini berasal dari perairan amerika tengah (menurut fishbase tersebar di wilayah Mexico dan Honduras),Terus kenapa kok bisa sampai di Indonesianya? Siapa yang bawah?
Kemungkinan seperti saudara sejenisnya Poeciliidae, Poecilia reticulata atau Gambusa reticulatus dibawa ke Indonesia untuk memakan dan membasmi jentik malaria di perairan, ikan ini dibawah oleh masa kolonial. Di Ranu Kumbolo ini mungkin Xiphophorus helleri sudah tidak lagi menjadi predator alami jentik nyamuk, namun difungsikan untuk memakan sisa makanan yang dibuang ditepian danau oleh para pendaki. Yah, Gunung Semeru yang cukup ramai ini membuat terkadang ada ulah pendaki yang membuang sisa makanannya ke perairan ini.
Lho...siapakah ikan jelmaan kumbolo (si anak yang bersisik ini), dari teori nyelenehku kemungkinan adalah jenis ikan mas (Cyprinidae) yang umurnya sudah cukup tua. Misalkan saja kita analogikan dengan ikan yang ada di Telaga Renjeng Bumiayu Brebes. Di daerah tersebut ada beberapa jenis ikan emas yang besar, ini membuka sedikit tabir bahwa jenis ikan Cyprinidae dapat beradaptasi di lingkungan yang bersuhu dingin. Sedangkan berdasarkan usia, kemungkinan dapat berusia lama seperti jenis ikan Koi. Jadi pada dasarnya Si Kumbolo ini berubah menjadi ikan sejenis ikan emas tersebut, entalah...karena masih belum ada penelitian lebih lanjut tentang kehidupan di bawah Ranu Kumbolo.
Ini hanya teori berdasarkan imaji yang mulai tak terhankan ketika melihat ini.... (komen jika ada sebuah kekeliruan)
Dan ketika saya ingin mencari sesuatu yang menurut saya menarik, yakni ikan jelmaan anak itu. Menurut pendapatku sih pasti jenis ikan cyprinidae yang dapat hidup di kawasan air tawar. Namun adakah ikan yang dapat hidup di suhu ekstream ini.
Nah, ini dia yang kami dapatkan di Ranu Kumbolo,, Xiphophorus helleri (Heckel 1848). Ikan ini termasuk kedalam Famili Poeciliidae, dengan bentuk yang khas pada ekor bawah (jantan). Ikan ini bukan asli Indonesia, ikan ini berasal dari perairan amerika tengah (menurut fishbase tersebar di wilayah Mexico dan Honduras),Terus kenapa kok bisa sampai di Indonesianya? Siapa yang bawah?
Kemungkinan seperti saudara sejenisnya Poeciliidae, Poecilia reticulata atau Gambusa reticulatus dibawa ke Indonesia untuk memakan dan membasmi jentik malaria di perairan, ikan ini dibawah oleh masa kolonial. Di Ranu Kumbolo ini mungkin Xiphophorus helleri sudah tidak lagi menjadi predator alami jentik nyamuk, namun difungsikan untuk memakan sisa makanan yang dibuang ditepian danau oleh para pendaki. Yah, Gunung Semeru yang cukup ramai ini membuat terkadang ada ulah pendaki yang membuang sisa makanannya ke perairan ini.
Lho...siapakah ikan jelmaan kumbolo (si anak yang bersisik ini), dari teori nyelenehku kemungkinan adalah jenis ikan mas (Cyprinidae) yang umurnya sudah cukup tua. Misalkan saja kita analogikan dengan ikan yang ada di Telaga Renjeng Bumiayu Brebes. Di daerah tersebut ada beberapa jenis ikan emas yang besar, ini membuka sedikit tabir bahwa jenis ikan Cyprinidae dapat beradaptasi di lingkungan yang bersuhu dingin. Sedangkan berdasarkan usia, kemungkinan dapat berusia lama seperti jenis ikan Koi. Jadi pada dasarnya Si Kumbolo ini berubah menjadi ikan sejenis ikan emas tersebut, entalah...karena masih belum ada penelitian lebih lanjut tentang kehidupan di bawah Ranu Kumbolo.
Ini hanya teori berdasarkan imaji yang mulai tak terhankan ketika melihat ini.... (komen jika ada sebuah kekeliruan)
